Ular dan Bunuh Diri
Di berbagai tempat, dengan berbagai alasan, ada saja orang bunuh diri. Di Jepang ada dalih budaya yang menunjang konsep bunuh diri untuk menjaga harkat diri pribadi dari kekeliruan langkah yang mendatangkan rasa malu yang tak tertanggungkan. Di Gunung Kidul yang gersang dan sarat kemiskinan penduduknya, bunuh diri tak jarang dilakukan oleh mereka yang tak tahan lagi menanggung penyakit tak tersembuhkan akibat ketiadaan biaya berobat, kelaparan, dan terutama kemiskinan yang ekstrem dan struktural. Di kota besar seperti Jakarta orang menjemput kematian secara paksa dengan menjatuhkan diri dari menara apartemen, jembatan penyeberangan, lantai teratas bangunan pertokoan, dan lain-lain.
Bunuh diri kerap dipilih sebagai jalan tersingkat untuk lari dari segenap persoalan duniawi yang tak lag tertanggungkan. Bunuh diri menjadi solusi setelah orang merasa tak ada gunanya mencoba meminta kepada Tuhan dengan berdoa, sebab doa seperti tak pernah ditanggapi. Juga, setelah orang tak bisa lagi memperoleh jalan keluar melalui bantuan dari orang lain. Atau, setelah orang merasa kepalanya akan pecah apabila lebih lama lagi dia memikul beban masalah dalam keadaan hidup.
Pada hakikatnya, kita tidak bisa lepas dari masalah atau realita yang sedang merundung sampai masalah atau keadaan itu sendiri yang melepaskan kita. Konstatasi ini tidak bertentangan dengan paradigma dalam kitab suci yang menyatakan bahwa nasib seseorang tidak akan berubah sampai yang bersangkutan mengubah dengan usahanya.
Masalah atau suatu kondisi kehidupan laksana ular yang taat pada Tuhan. Dia membelit kita sampai diperintahkan melepaskan belitannya, baik melalui perjuangan orang yang bersangkutan ataupun tidak, melalui bantuan orang lain ataupun tidak. Prinsipnya: segala sesuatu berjalan menurut ukuran waktu yang sudah ditetapkan Tuhan. Segalanya akan berlalu, penderitaan maupun kebahagiaan.
Jika sang ular belum akan mengendurkan atau melepaskan belitannya, sekeras apa pun usaha Anda, kemungkinan gagal lebih besar terjadi. Orang yang berjiwa lapang akan berkata ada faktor X dalam kehidupan seseorang. Orang yang dikaruniai talenta bisnis dan kemujuran besar sejak lahirnya, meski hanya sekolah dasar beberapa tahun, dia bisa saja menjadi konglomerat.
Semua agama tentu menganjurkan umatnya tidak berpangku tangan menunggu sang ular mengendurkan atau melepaskan belitannya, sebab kerja dan usaha dinilai sebagai kebaikan dalam keberadaan manusia yang berakal. Dengan akalnya dia mengarahkan energinya, tetapi dengan hatinya dia bersikap bijak dengan memaklumi hakikat dunia yang kesempurnaannya tidak bisa dianalogikan dengan lingkaran bulat sempurna.
Seorang mahaguru Zen memasak kue tepung. Setiap kuenya matang dengan aneka bentuk yang tidak pernah bulat bagus, dia selalu berkata, “Sempurna!” demikianlah orang yang telah memahami hakikat.
Putus asa lalu bunuh diri tidak melepaskan seseorang dari masalah. Seseorang yang bunuh diri ibaratnya hanya menanggalkan pakaian. Roh memaksa diri lepas dari jasad. Jasmani yang rusak tak bisa lagi digunakan sehingga roh tekatung-katung di alam dunia. Itu sebabnya dalam sabda Nabi dikatakan roh orang yang mati bunuh diri tergantung di antara langit dan bumi. Roh tidak menapak tanah, namun tidak bisa memasuki alam berikutnya, sebab Tuhan belum memanggil dia. Demikian sampai hari kiamat.
Keadaan roh orang yang mati bunuh diri jauh lebih buruk ketimbang menghadapi masalah di alam dunia. Seberat apa pun kondisi di dunia, ada batas akhirnya sebelum ajal menjemput. Sedangkan roh orang yang mati bunuh diri harus menanggung keadaan yang mengerikan sampai alam semesta mencapai ujung eksistensinya, kiamat.
Bagi kaum ateis, mungkin alasannya akan berbeda. Keburukan bunuh diri adalah sikap pengecut orang yang tidak cukup tangguh memikul kebebasannya dan bahwa kehidupan adalah hal yang baik. Sedangkan bagi ateis yang menyetujui bunuh diri, tindakan itu dinilai sebagai pilihan bebas manusia yang pantas dihormati dan tidak terkait dengan ketabahan ataupun kepengecutan. Dengan akalnya manusia bebas menafsirkan kehidupan menurut perspektif masing-masing. Bahkan bagi absurdis semacam Albert Camus, bunuh diri adalah pilihan logis seorang manusia.
Manusia memang bebas memilih apakah akan berjuang menempuh kehidupan sebagai seorang insan sejati yang menghargai kehidupan, seburuk apa pun kehidupan itu di dalam persepsinya, ataukah dia memilih kematian segera ketika terbentur tembok yang di matanya tampak kukuh, sementara ribuan ular melata di kakinya dan sebagian sudah menggerayangi sekujur tubuh dan ia tidak tahan lagi.
Yang perlu dicamkan adalah sabda Tuhan dalam kitab suci agama Islam, Al-Quran: “Apakah kamu mengira setelah menyatakan beriman kamu tidak akan diuji?” Perihal ujian setelah seseorang menyatakan keimanan atau ikrar di hadapan Zat Mutlak dalam berbagai bentuk terdapat pada semua agama samawi. Bahkan dalam budaya Melayu Kuno ada ungkapan yang mengajarkan manusia agar mengaplikasikan pandangan perihal ujian guna memperoleh bukti aktual mana loyang, mana besi, mana berlian, mana beling.
Pertanyaannya, apakah Anda tidak berminat maju sampai titik darah penghabisan untuk membuktikan diri Anda seorang manusia berlian atau sekadar beling tak berharga? Manusia besi ataukah semata-mata loyang? Orang yang gemar tafakur biasanya cenderung menafsirkan kehidupan sebagai permata yang menyimpan makna tak tepermanai, lebih dari sekadar hidup apa adanya sehingga mudah memilih kabur secara tak bertanggung jawab ketika suatu masalah merundung dirinya dan dia buru-buru menyimpulkan bahwa dirinya tak bakal kuat bertahan sampai fajar pagi berikutnya datang.

