Ular dan Bunuh Diri

Di berbagai tempat, dengan berbagai alasan, ada saja orang bunuh diri. Di Jepang ada dalih budaya yang menunjang konsep bunuh diri untuk menjaga harkat diri pribadi dari kekeliruan langkah yang mendatangkan rasa malu yang tak tertanggungkan. Di Gunung Kidul yang gersang dan sarat kemiskinan penduduknya, bunuh diri tak jarang dilakukan oleh mereka yang tak tahan lagi menanggung penyakit tak tersembuhkan akibat ketiadaan biaya berobat, kelaparan, dan terutama kemiskinan yang ekstrem dan struktural. Di kota besar seperti Jakarta orang menjemput kematian secara paksa dengan menjatuhkan diri dari menara apartemen, jembatan penyeberangan, lantai teratas bangunan pertokoan, dan lain-lain.

Bunuh diri kerap dipilih sebagai jalan tersingkat untuk lari dari segenap persoalan duniawi yang tak lag tertanggungkan. Bunuh diri menjadi solusi setelah orang merasa tak ada gunanya mencoba meminta kepada Tuhan dengan berdoa, sebab doa seperti tak pernah ditanggapi.  Juga, setelah orang tak bisa lagi memperoleh jalan keluar melalui bantuan dari orang lain. Atau, setelah orang merasa kepalanya akan pecah apabila lebih lama lagi dia memikul beban masalah dalam keadaan hidup.

Pada hakikatnya, kita tidak bisa lepas dari masalah atau realita yang sedang merundung sampai masalah atau keadaan itu sendiri yang melepaskan kita. Konstatasi ini tidak bertentangan dengan paradigma dalam kitab suci yang menyatakan bahwa nasib seseorang tidak akan berubah sampai yang bersangkutan mengubah dengan usahanya.

Masalah atau suatu kondisi kehidupan laksana ular yang taat pada Tuhan. Dia membelit kita sampai diperintahkan melepaskan belitannya, baik melalui perjuangan orang yang bersangkutan ataupun tidak, melalui bantuan orang lain ataupun tidak. Prinsipnya: segala sesuatu berjalan menurut ukuran waktu yang sudah ditetapkan Tuhan. Segalanya akan berlalu, penderitaan maupun kebahagiaan.

Jika sang ular belum akan mengendurkan atau melepaskan belitannya, sekeras apa pun usaha Anda, kemungkinan gagal lebih besar terjadi. Orang yang berjiwa lapang akan berkata ada faktor X dalam kehidupan seseorang. Orang yang dikaruniai talenta bisnis dan kemujuran besar sejak lahirnya, meski hanya sekolah dasar beberapa tahun, dia bisa saja menjadi konglomerat.

Semua agama tentu menganjurkan umatnya tidak berpangku tangan menunggu sang ular mengendurkan atau melepaskan belitannya, sebab kerja dan usaha dinilai sebagai kebaikan dalam keberadaan manusia yang berakal. Dengan akalnya dia mengarahkan energinya, tetapi dengan hatinya dia bersikap bijak dengan memaklumi hakikat dunia yang kesempurnaannya tidak bisa dianalogikan dengan lingkaran bulat sempurna.

Seorang mahaguru Zen memasak kue tepung. Setiap kuenya matang dengan aneka bentuk yang tidak pernah bulat bagus, dia selalu berkata, “Sempurna!” demikianlah orang yang telah memahami hakikat.

Putus asa lalu bunuh diri tidak melepaskan seseorang dari masalah. Seseorang yang bunuh diri ibaratnya hanya menanggalkan pakaian. Roh memaksa diri lepas dari jasad. Jasmani yang rusak tak bisa lagi digunakan sehingga roh tekatung-katung di alam dunia. Itu sebabnya dalam sabda Nabi dikatakan roh orang yang mati bunuh diri tergantung di antara langit dan bumi. Roh tidak menapak tanah, namun tidak bisa memasuki alam berikutnya, sebab Tuhan belum memanggil dia. Demikian sampai hari kiamat.

Keadaan roh orang yang mati bunuh diri jauh lebih buruk ketimbang menghadapi masalah di alam dunia. Seberat apa pun kondisi di dunia, ada batas akhirnya sebelum ajal menjemput. Sedangkan roh orang yang mati bunuh diri harus menanggung keadaan yang mengerikan sampai alam semesta mencapai ujung eksistensinya, kiamat.

Bagi kaum ateis, mungkin alasannya akan berbeda. Keburukan bunuh diri adalah sikap pengecut orang yang tidak cukup tangguh memikul kebebasannya dan bahwa kehidupan adalah hal yang baik. Sedangkan bagi ateis yang menyetujui bunuh diri, tindakan itu dinilai sebagai pilihan bebas manusia yang pantas dihormati dan tidak terkait dengan ketabahan ataupun kepengecutan. Dengan akalnya manusia bebas menafsirkan kehidupan menurut perspektif masing-masing. Bahkan bagi absurdis semacam Albert Camus, bunuh diri adalah pilihan logis seorang manusia.

Manusia memang bebas memilih apakah akan berjuang menempuh kehidupan sebagai seorang insan sejati yang menghargai kehidupan, seburuk apa pun kehidupan itu di dalam persepsinya, ataukah dia memilih kematian segera ketika terbentur tembok yang di matanya tampak kukuh, sementara ribuan ular melata di kakinya dan sebagian sudah menggerayangi sekujur tubuh dan ia tidak tahan lagi.

Yang perlu dicamkan adalah sabda Tuhan dalam kitab suci agama Islam, Al-Quran: “Apakah kamu mengira setelah menyatakan beriman kamu tidak akan diuji?” Perihal ujian setelah seseorang menyatakan keimanan atau ikrar di hadapan Zat Mutlak dalam berbagai bentuk terdapat pada semua agama samawi. Bahkan dalam budaya Melayu Kuno ada ungkapan yang mengajarkan manusia agar mengaplikasikan pandangan perihal ujian guna memperoleh bukti aktual mana loyang, mana besi, mana berlian, mana beling.

Pertanyaannya, apakah Anda tidak berminat maju sampai titik darah penghabisan untuk membuktikan diri Anda seorang manusia berlian atau sekadar beling tak berharga? Manusia besi ataukah semata-mata loyang? Orang yang gemar tafakur biasanya cenderung menafsirkan kehidupan sebagai permata yang menyimpan makna tak tepermanai, lebih dari sekadar hidup apa adanya sehingga mudah memilih kabur secara tak bertanggung jawab ketika suatu masalah merundung dirinya dan dia buru-buru menyimpulkan bahwa dirinya tak bakal kuat bertahan sampai fajar pagi berikutnya datang.

Papua Sayang, Papua Malang

Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, pada hari Selasa 29 November 2011 itu penuh sesak. Suasana terasa padat dengan emosi. Silih berganti ketiga pembicara memaparkan keadaan Papua yang aktual, yang sebagian besar tak diketahui oleh para hadirin yang hampir seluruhnya berdomisili di Jakarta.

Tidak jarang tentara Indonesia ke rumah-rumah penduduk miskin Papua dengan pertanyaan, “Mana Merah Putih? Kenapa tidak pasang bendera?”

Jawab penduduk, “Kami tidak mampu beli bendera, Bapak. Untuk makan pun susah.”

Ilustrasi itu cukup memberi gambaran betapa sempit cara pandang negara terhadap warganya. Mereka diwajibkan setia dalam bentuk memiliki dan mengibarkan bendera, tanpa peduli apakah hati mereka tertaut pada NKRI karena merasa diberkati oleh rengkuhan NKRI atau tidak.

Negara RI hadir di kampung-kampung tanah pedalaman dalam bentuk tentara yang mengokang senjata dan menuduh mereka separatis dan tak sungkan memukul atau menembak; juga dalam bentuk puskesmas-puskesmas yang kosong tanpa dokter, tanpa obat-obatan—hanya sawang dan suwung belaka; dalam bentuk sekolah-sekolah yang rontok bangunannya, tiada guru, apalagi buku-buku; dalam bentuk korupsi para pejabat yang temaha menilap uang yang mengalir lewat program otonomi khusus; dalam bentuk ketidakpedulian akan kemiskinan mereka dan berbagai kepahitan hidup yang tak tertanggulangi selama puluhan tahun bernaung di bawah NKRI.

Belum lagi persaingan sengit dua aparat negara dalam hal penguasaan uang keamanan dari PT Freeport Indonesia, yang menimbulkan banyak kasus kekerasan dan konflik bersenjata yang tak jarang menjadikan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai kambing hitam.

Baru-baru ini terungkap soal uang keamanan yang diberikan secara berkala oleh pihak Freeport kepada polisi, namun belakangan dibantah oleh Markas Besar Kepolisian RI.  Bantahan yang hanya menambah ketidakpercayaan publik kepada polisi. Setelah banyak hal tersingkap di depan mata khalayak, satu tuntutan mengemuka agar pemerintah menarik tentara dan Brimob dari Papua. Biarkan polisi yang menjaga keamanan di sana, sebab memang penjagaan keamanan adalah tugas polisi. Apabila masih terjadi kekerasan juga, maka akan lebih gampang saja untuk memeriksa, apakah pelakunya polisi atau anggota OPM.

Selama TNI masih bercokol di Papua, selamanya akan sulit memastikan siapa pelaku penembakan dan pemicu banyak konflik antara TNI dan Polri. Keduanya memegang senjata dan sama-sama memiliki kepentingan akan ransum haram yang nilainya memang menggiurkan.

Bahkan secara off the record salah seorang peneliti ahli tentang Papua berkata kepada saya seusai acara bahwa seorang pembesar TNI (kini purnawirawan) sampai datang ke tanah Papua untuk merundingkan soal uang keamanan dari PT Freeport. Astaga. Apa jadinya andaikata pada 2014 orang semacam ini tiba-tiba terpilih menjadi presiden kita? Orang-orang Freeport dan Amerika akan terbahak-bahak seraya menuding sinis, itulah Presiden RI, seorang tukang palak. Centeng murahan tak ubahnya penjual negara.

Aparat negara sendiri tak peduli tanah negeri ini digali dan dikuras isinya asalkan mereka mendapat sekantong duit keamanan, sekalipun untuk itu harus menembaki rakyat yang tidak berdosa dan terzalimi akibat kerusakan lingkungan dan diskriminasi. Betapa kejam negara memperlakukan rakyatnya. Apalah artinya NKRI dan persatuan nasional apabila hanya untuk menyerahkan jiwa dan raga buat ditindas oleh negara yang tak punya hati? Sampai kapan kejahatan terorganisasi ini akan kita biarkan berlangsung? Sudah waktunya pemerintah membuka hati untuk menindak aparat yang berjiwa serigala dan membenahi sikap untuk mendengarkan jeritan hati rakyat Papua.

Sesungguhnya makna kemerdekaan bagi rakyat Papua adalah merdeka dari kemiskinan, diskriminasi, penindasan militer, berbagai kekerasan fisik dan intimidasi, pembelaan dari berbagai kejahatan dari unsur industri yang tamak dan mengabaikan kemuliaan adat dan budaya lokal. Mereka lahir dan diasuh oleh bumi yang subur dan kaya, namun bahkan gunung keramat mereka, Grasberg, digali sampai bolong-bolong dan kosong melompong oleh perusahaan asing selama lebih dari empat puluh tahun tanpa kepedulian negara sama sekali.

Kita tunggu dan lihat apakah Presiden SBY tergerak untuk membela Papua, yang berarti juga membela negara ini dari ancaman kerontokan menjadi serpihan-serpihan tak berarti.

Kasus Libya

Setelah membunuh pemimpinnya sendiri dengan brutal, Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya mendeklarasikan kemerdekaan. Sungguh memprihatinkan nasib bangsa ini. Setelah diobrak-abrik Amerika Serikat, mereka memburu dan menembak mati pemimpin mereka sendiri walaupun sepantasnya mereka mengadili dia secara wajar, sebab saat tertangkap dia sudah memohon agar tidak ditembak. Entah apakah mereka hanya melaksanakan keinginan Amerika yang luar biasa benci kepada Qadafi sehingga tak ingin menyaksikan orang itu hidup lebih lama lagi di muka bumi.

Qadafi mati mengenaskan di tangan rakyatnya karena berbagai alasan. Sebenarnya, bagaimanapun buruknya dia, menurut laporan media massa yang jujur, dia telah berhasil menciptakan kesejahteraan dan rasa aman pada diri rakyatnya, meski kadarnya bersifat relatif. Oposan Libya telah terdorong untuk bertindak tidak elegan saat mengeksekusi pemimpin yang mereka nilai tiran dan korup.

Yang entah disadari atau tidak oleh rakyat Libya, deklarasi kemerdekaan yang mereka canangkan bersifat ironis, sebab dengan robohnya rezim Qadafi kini mereka memasrahkan diri secara bulat-bulat ke taring kapitalis Amerika. Terang benderang di mata publik bahwa perang libya bagi Amerika adalah perang minyak, bukan perang demi demokrasi dan kemanusiaan.

Dalam kenyataan, bukan kemerdekaan yang sepatutnya mereka deklarasikan, melainkan keterjajahan oleh Amerika Serikat, khususnya oleh kapitalisme internasional di bawah pimpinan Amerika.

Santa Amerika

Amerika tampak begitu peduli pada demokrasi di negara-negara Timur Tengah dan Asia, dan Obama tampak seperti santa yang penuh kasih ingin membebaskan warga dunia dari para diktator. Sementara itu, pers dunia yang dikemudikan para kapitalis Yahudi membentuk opini umum tanpa kenal lelah yang menciptakan gambaran satanistik negara-negara tersebut.

Tujuan mereka jelas, setelah negara-negara itu ditaklukkan melalui para pemimpin boneka sehabis melenyapkan para pemimpin semula yang tak mau tunduk kepada adidaya Amerika, pasar dan sumber daya alam negara-negara itu dikuasai dan dikuras untuk kepentingan bangsa Amerika dan, tentu saja, bangsa Yahudi.

Amerika dan Israel tak pernah peduli dengan jerit tangis rakyat Afrika dan Asia yang kelaparan atau ditindas para tiran. Mereka hanya peduli pada nafsu akan kekuasaan. Tujuan mereka jelas, menguasai dunia. Sementara ini, Israel rela berbagi dengan Amerika dalam hal penguasaan bumi, tetapi kelak Israel akan menendang Amerika atau meringkus negara itu dan mengelompokkan Paman Sam dengan semua bangsa lain yang dikepit di ketiaknya ketika The New World Order, Tatanan Dunia Baru, sudah tercapai dalam perspektif Yahudi.

Bukan tak ada orang Amerika yang menyadari kemungkinan itu, tetapi jumlah mereka sangat sedikit dan yang sedikit itu pun diberangus secara sistematis oleh jaringan Yahudi yang bercokol di Amerika dan negara-negara makmur Eropa. Stigma yang populer diberlakukan Yahudi terhadap mereka adalah tuduhan “antisemit” yang dampak atau sanksinya amat mengerikan bagi yang bersangkutan. Mirip dengan tuduhan “terlibat PKI” pada era Orde Baru di bawah rezim Soeharto.

Di mata awam, sejarah terbentuk oleh kejadian pada masa yang telah lewat, catatan tentang peristiwa masa lalu, sesuatu yang sudah terjadi. Padahal, di mata kelompok elite Yahudi yang menguasai kekayaan besar berskala dunia, sejarah adalah pola yang disiapkan sebelum peristiwanya terjadi, bahkan sebelum waktunya tiba.

Kita mengenal Protocols of the Learned Elders of Zion yang kontroversial. Orang pun berdebat tak henti-hentinya mengenai teks itu. Naskah yang disusun ratusan tahun silam itu begitu terperinci melukiskan berbagai aspek kehidupan masa kini hingga masa yang belum tiba saat ini, seakan-akan bahkan mereka sudah tahu jenis dan kecenderungan teknologi pada masa depan, yang akan membentuk pola budaya sebagian besar bangsa di muka bumi. Selain itu,  tak sedikit kesaksian dan opini jujur orang Amerika yang mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka yang dipublikasikan demi bangsa Amerika. Semua itu seakan-akan percuma, sebab lobi Yahudi hingga kini mencengkeram hegemoni politik Amerika dan segelintir keluarga kaya Yahudi menggenggam kekayaan dunia di berbagai negara. Mereka menguasai perbankan dan perdagangan berlian, emas, dan berbagai komoditas utama dunia.

Di bawah para mandarin Yahudi, seperti biasa, para kecoak semacam “raja-raja kelas menengah”, yakni para pemimpin Eropa dan Amerika, tetap bergerilya mencaplok kekayaan alam dan merampok ekonomi negara-negara dunia ketiga. Sementara itu, para “raja kecil” semacam penguasa-penguasa di dunia ketiga itu sendiri menjadi para diktator dan tiran yang merampok rakyat mereka sendiri.

Demikianlah, di dunia manusia hukum rimba berlaku sepanjang zaman. Yang kuat memakan yang lemah dari puncak sampai kaki piramida. Sejarah pun terus berulang, begitu-begitu saja, sebenarnya, hanya tahun dan  tempat kejadian serta nama para pelakunya berubah-ubah.

Dunia terus berputar. Orang-orang religius berdoa meminta yang terbaik pada hari esok, sementara para penguasa bumi bersidang merancang apa yang harus terjadi esok lusa. Orang yang beriman yakin bahwa Tuhan diam-diam menyaksikan semuanya.

Hujan

Kunanti engkau dengan rindu, sementara matahari garang terus memanggang kota-kota. Di televisi dan koran-koran bertebaran berita-berita yang membakar perasaan rakyat. Kemarau yang mengeringkan sumur, sungai, dan sumber-sumber air. Rakyat kecil di perkotaan hingga pedesaan menderita. Mereka yang hidup berkelimpahan mungkin terlena dibuai sejuk AC sambil menekan-nekan tombol pengendali televisi untuk mencari berita artis yang kawin-cerai ketimbang menonton rakyat antre sambil memegang ember untuk menciduk air di sendang dangkal.

Para petani termangu menatap lahan sawah yang retak-retak seraya membayangkan paceklik yang segera menjemput. Ke mana para pamong praja yang biasanya mondar-mandir di kantor kelurahan, kecamatan, kabupaten, kantor wali kota, gubernuran? Rakyat Indonesia tanpa pemimpin!

Tidak aneh jika pada saatnya kutukan Tuhan akan menimpa para pejabat yang ingkar terhadap sumpah jabatan dan kewajiban yang melekat sejak mereka menikmati kursi empuk dan pangkat beserta kenikmatan badaniah.

Hujan, kapankah engkau datang menyentuh hati kami yang meranggas? Berjanjilah, engkau tidak malah hanya bermesraan dengan mereka yang hidup berkelimpahan. Mereka sudah merasa nyaman dalam kabin sedan terkunci, menikmati musik, bertelepon atau menulisi status Facebook dengan Blackberry, dan sama sekali tidak peduli apakah engkau turun rintik-rintik atau lebat beriring halilintar. Mereka hanya berpikir engkau tidak akan menciptakan banjir yang akan memacetkan lalu lintas dan mereka bakal telat pulang ke rumah atau ke kamar apartemen menemui kekasih gelap.

Hujan, berjanjilah engkau hanya akan turun untuk kami yang lapar dan dahaga di tanah-tanah kering.

Ah, kami sadar engkau akan datang untuk semua tanpa kecuali. Tiada pilih kasih. Kami tahu itu dan kami tak bisa menghalangi anugerah yang kaubawa ke bumi. Kami hanya memanjatkan doa. Maafkanlah doa yang sangat tidak bijaksana ini.

Hujan, siramlah kami semua. Kami yang berdiri gemetar di sawah terbakar, kami yang berpenyakitan di tengah-tengah kekumuhan Jakarta, juga kami yang berkemul kehangatan rumah, keharuman kabin sedan, kelenaan di dalam music lounge, kami yang tengah menikmati seks dengan kekasih tanpa nama di ranjang mesum, kami yang mengukur tasbih di masjid kecil, kami yang duduk di teras vihara, kami yang terbaring di dipan rumah sakit. Kami semua… kami semua. Engkau datang dengan keadilan Tuhan yang Maha Melihat, Mahasabar, Maha Pengasih.

Hujan, siramlah dosa-dosa kami. Turunlah, basuhlah hati kami.

Ulasan Kritis atas novel bonsai

Sejak beredar pada pertengahan Maret 2011, novel Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng telah disambut baik dan diapresiasi di sejumlah blog maupun akun Twitter dan Facebook. Hal ini sangat menggembirakan. Di antara banyak komentar maupun ulasan atas novel tersebut, salah satunya adalah yang saya muat di bawah ini. Dengan kerendahan hati dan sepenuh hati saya ucapkan terima kasih kepada Saudara “Redaksi” yang telah menulis ulasan yang saya unggah di sini apa adanya.

Salam,

Pralampita Lembahmata

.

Article » Read

16 Juni 2011

Buku Inspirasi Kehidupan Warga ‘Cina Benteng’ dalam Bonsai

Author : Redaksi

Siapa sangka, warga Tionghoa pertama yang menempati salah satu kawasan di Tangerang rupanya mendapat berbagai inspirasi kehidupan dari sebuah pohon kerdil. Uniknya, kelangsungan hidup mereka rupanya menjadi “abadi”, sebagaimana tanaman yang mereka rawat dengan baik.

Sinopsis

Kedatangan leluhur keluarga Boenarman ke sungai Cisadane Tangerang, sejatinya tiba untuk menjadi petani, buruh, pekerja lepas, maupun pedagang. Tetapi sejarah kemudian mencatat banyak hal dari kawasan yang kemudian dinamai Benteng, karena di tempat itulah serangan Belanda selalu kandas melawan kesultanan Banten, atau juga karena di sanalah muncul istilah warga “Cina Benteng” yang belakangan tergusur oleh kebijakan Pemkot Tangerang.

Boenarman sendiri adalah keturunan kesekian etnis Tionghoa di kawasan itu. Terpikat oleh sosok pohon kerdil yang mampu hidup “abadi” untuk dijadikan monumen keluarganya, sebatang hinoki cypress yang mulai dirawatnya sejak 1909 terus diwariskan pada anak-cucunya. Inilah saksi bisu lain dari kelangsungan warga Cina Benteng yang menjadi inspirasi kehidupan bagi siapapun yang membacanya.

Compare

Menggabungkan fakta dan sastra, buku berjudul Bonsai karangan Pralampita Lembahmata ini benar-benar ditulis dengan telaten layaknya merawat bonsai. Karya sastra ini tidak hadir dengan preposisi menentang rejim dengan lihai layaknya Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, dan tidak membontang-banting perasaan seperti Jazz, Parfum, dan Insiden Seno Gumira Adjidarma. Bonsai adalah penuturan yang jujur, dan dari sanalah pembaca dapat memaknai inspirasi kehidupan yang disampaikan penulisnya.

MD’s Best Page

Menguak sejarah lewat sastra tak pernah membosankan. Asyiknya, penulis Pralampita Lembahmata tak hadir dengan kepala kosong. Pemilik blog Kata-kata Pralampita Lembahmata tersebut selalu menulis dengan filosofi yang jelas, dengan penuturan gamblang yang mencengangkan. Siapapun pembaca Bonsai akan dibuat jatuh cinta pada penyampaian dan fakta-fakta yang berhasil dikumpulkannya.

MegaDiskon© 2011

Tangan Kotor Amerika ‘Dajjal’ Serikat di Indonesia

Dari sekian banyak analisis atas dokumen dan arsip CIA yang telah dibuka untuk umum tampak jelas apa yang disebut konspirasi Yahudi dan terorisme Amerika Serikat. Perbanditan internasional itu bukan isapan jempol yang kerap diejek dengan istilah Teori Konspirasi dan dituduh sebagai mitos belaka oleh mereka yang skeptis.

Selama bertahun-tahun aku sudah membaca buku-buku tulisan warga negara Amerika Serikat yang prihatin karena negerinya dan bangsanya diperkuda oleh segelintir elite Yahudi kaya-raya demi cita-cita Zionisme yang salah satu tujuan utamanya adalah mendirikan Israel Raya.

Sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama Amerika Serikat kukuh berdiri sebagai basis kekuatan Dajjal Yahudi. Negara itu secara terang-terangan bertingkah laku sebagai teroris “legal” yang merampok negara-negara yang kaya sumber daya alam mineral.

Dajjal adalah nama person di dalam literatur Islam yang dinubuatkan bakal muncul pada akhir zaman untuk merusak tatanan dunia yang damai dan wajar. Dajjal juga bisa dianggap sebagai simbol aspek apa saja yang berwatak kelam, jahat, amoral, dan menentang Tuhan. Dalam keyakinan kristiani, perwujudan iblis ini disebut Antichrist, Antikristus.

Patut dicatat, bagi kalangan umat Yahudi sendiri, yakni mereka yang taat pada ajaran murni Musa dengan Tauratnya, Zionisme adalah kejahatan, dan kitab Talmud sendiri berisi banyak keganjilan sebagai “kitab suci”, sebab mengandung banyak ajaran yang menyimpang, misalnya dalam hal moral dan perilaku seksual.

Bukan rahasia lagi bahwa politik luar negeri Amerika Serikat sebenarnya mewakili kepentingan Zionisme atau Yahudi Israel. Justru para rabi yang masih menjunjung suara hati nurani dan menganut monoteisme yang dibawa Ibrahim dan Musa menjadi suara yang sayup-sayup di berbagai belahan bumi.

Untuk tujuan politik dan ekonominya agar terus-menerus menjadi yang nomor satu, superpower, di dunia, negara itu mendayagunakan Central Intelligent Agency (CIA) melancarkan praktek kotor bekerja sama dengan para duta besarnya dan lain-lain di negara-negara yang diincar. Selama ini yang terbukti tangguh menangkal rongrongan Amerika adalah Cina. Secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan Amerika berusaha mendiskreditkan Cina atas berbagai isu domestik—biasanya isu hak asasi manusia—namun Cina selalu sukses membalas gonggongan Amerika.

Indonesia adalah salah satu korban kebrutalan CIA. Beberapa kali Presiden RI pertama Soekarno lolos dari percobaan pembunuhan agen CIA. Pada akhirnya, CIA dan kedutaan Amerika Serikat sukses menjatuhkan Soekarno dengan menggunakan tangan Soeharto pada tahun 1966, yang ditandai dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang kontroversial. Hingga kematiannya Soeharto sukses menyembunyikan surat itu—bahkan hingga hari ini. Tak seorang pun mengetahui di mana surat itu atau salinannya disimpan. Mungkin surat itu sudah dihancurkan, siapa yang tahu? Tiada dokumentasinya.

Bukan hanya menyingkirkan Soekarno dari kursi kepresidenan, Soeharto juga menaati kemauan Amerika Serikat supaya dia membantai rakyat Indonesia atas dasar tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia tanpa proses pengadilan sama sekali.

Amerika melalui CIA bertindak seenaknya merombak rezim dan membunuh pemimpin suatu negara, kemudian mendudukkan pemimpin boneka yang tunduk pada kehendak Washington. Itu sebabnya, sejak jatuhnya Soekarno, Indonesia dengan suka rela menyerahkan bulat-bulat kekayaan mineral bumi Papua dan Kalimantan yang tak tepermanai kepada jaringan konsorsium Amerika dan Eropa, yang notabene dikangkangi klan-klan Yahudi super-kaya.

Tidak sedikit pemimpin negara-negara Amerika Latin yang digulingkan oleh gerakan terselubung CIA dengan dalih melawan komunisme. Padahal, para pemimpin itu terpilih secara demokratis dan betul-betul memperjuangkan ekonomi rakyatnya. Amerika Serikat tampaknya tidak pernah rela negara lain makmur tanpa membuka akses bagi perusahaan-perusahaan multinasionalnya memasuki lahan bisnis negara-negara itu dan mengeruk kekayaan alamnya.

Niat busuk Amerika Serikat terungkap dalam pidato Presiden Eisenhower pada tahun 1953 saat menjelaskan mengapa begitu penting bagi Amerika Serikat menyokong perang kolonial Prancis di Vietnam. Dinyatakan bahwa itu adalah cara termurah untuk memegang kendali atas Indonesia.

Berikut petikan pidato sang Presiden, yang terdapat dalam artikel Ralph McGehee, “The Indonesian Massacres and the CIA”, dalam Covert Action Quarterly, Fall 1990:

Now let us assume that we lose Indochina. If Indochina goes, several things happen right away. The Malay peninsula, the last little bit of land hanging on down there, would be scarcely defensible. The tin and tungsten we so greatly value from that area would cease coming, and all India would be outflanked. Burma would be in no position for defense. All of that position around there is very ominous to the United States, because finally if we lost all that, how would the free world hold the rich empire of Indonesia? So you see, somewhere along the line, this must be blocked and it must be blocked now, and that is what we are trying to do. So when the US votes $400 million to help the war (in Indochina), we are not voting a giveaway program. We are voting for the cheapest way that we can prevent the occurrence of something that would be of a most terrible significance to the United States of America, our security, our power and ability to get certain things we need from the riches of the Indonesian territory and from South East Asia.”

Amerika sangat bernafsu menjajah negeri ini secara ekonomi sebab Indonesia menduduki peringkat kelima dalam hal kekayaan sumber daya alam. Selain sebagai penghasil minyak terbesar kelima di dunia, bumi Indonesia kaya akan timah, bauksit, batu bara, emas, perak, berlian, mangan, fosfat, nikel, tembaga, karet, kopi, dan lain-lain. Paman Sam tak peduli seandainya untuk merebut kekayaan alam ini mereka harus membantai rakyat di Nusantara, negeri zamrud khatulistiwa ini, dan itu telah mereka lakukan melalui tangan Soeharto dan antek-anteknya pada tahun-tahun akhir dekade 1960-an pasca-Gerakan 30 September.

Tentang Persepsi Kesia-siaan

Engkau tidak akan merasa putus asa apabila engkau dapat berpikir bahwa tidak ada kehidupan yang sia-sia, sekalipun engkau dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah akibat salah tangkap dan harus meringkuk di sudut sel gelap seumur hidupmu.

Aku bukan sedang menceramahi engkau. Aku hanya sedang memasuki lorong-lorong batinku, masuk lebih dalam lagi.

Sudah sering kita dengar orang bilang hidup ini misteri, namun anasir misteri yang terdekat adalah diri kita. Di dalam diri kita ada impian, harapan, rencana, perjuangan, doa, juga sumpah serapah. Malaikat dan iblis membuat diri kita seperti lengkap. Kita menjadi galau dalam perjuangan mengejar kedamaian dan rasa penuh. Tidak perlu di sini kuulangi ocehan filsafat tentang kebahagiaan teoretis.

Mungkin sepatutnya kita tahu batas dan selanjutnya berpikir tentang pasrah bertiang iman. Iman berupa keyakinan yang teguh bahwa Tuhan menganugerahkan kehidupan ini tidak sebagai kesia-siaan, seburuk apa pun kehidupan yang kita jalani menurut persepsi kita masing-masing. Alam yang mempesona bagi si buta. Musik yang melodius bagi si pekak. Sastra yang indah bagi si praktis. Restoran dan masakan yang lezat bagi si miskin. Istana yang nyaman mewah bagi si penderita vertigo akut dan lain-lain, si tampan dan si cantik bagi mereka yang tidak dihadiahi cinta.

Sadarilah relasi indifferent antara dirimu dan duniamu. Itulah garis batas—bukan garis demarkasi—yang menyelamatkan jiwamu dari cengkeraman perangkap yang selalu berusaha menipu engkau untuk merampok jiwamu. Ambillah sikap indifferent, tetapi bukan ketidakpedulian, sebab tidak pantas kehidupan dijalani dalam keadaan mati rasa. Kehidupan mati rasa adalah keputusasaan. Padahal, perjuangan hakiki manusia adalah melawan keputusasaan dan persepsi serong tentang kesia-siaan. Itu maksudku.

Esai tentang Novel ‘Bonsai’

Esai tentang novel "Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng" oleh Arie MP Tamba di koran Jurnal Nasional, Minggu 15 Mei 2011, halaman 28.

Tentang “Pahlawan Bangsa”

Sejarah Indonesia pasca-Soekarno adalah penjungkirbalikan realitas. Didalangi CIA yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Amerika Serikat, setelah rontoknya para petinggi PKI yang keblinger, mabuk “rasa menang” selama paruh pertama dekade 1960-an, Mayjen Soeharto merebut kekuasaan dari tangan Soekarno dengan cerdik. Minimal setengah juta rakyat dibantai dengan dalih pembersihan unsur-unsur komunis. Soekarno sendiri “dikarantina” oleh Soeharto tanpa belas kasihan hingga kematiannya dan namanya sempat dicoba untuk dicoreng dengan aneka fitnah seakan-akan dialah dalang aksi Gerakan 30 September.

Kita tahu, penghancuran nama Soekarno sudah dilakukan Amerika dengan penggerogotan ekonomi Indonesia secara tak langsung sejak awal dekade 1960-an untuk merontokkan kredibilitas Soekarno di mata rakyat dan sebagai aksi penentangan Amerika terhadap hubungan RI dengan negara-negara sosialis dan upaya Amerika menguasai sumber daya alam Indonesia yang selama itu dijaga baik-baik oleh Soekarno hingga terlontar ucapan “Go to hell with your aid.” Pada saat yang sama Amerika justru intensif menjalin “kerja sama pertahanan dan ekonomi” dengan kalangan tertentu di Angkatan Darat melalui sejumlah tokoh yang berkonsentrasi di SSKAD atau Seskoad sonder peduli keberadaan pemerintah. Soeharto menikmati didikan dan dukungan semacam ini selama berdinas dan belajar di sana.

Dengan dukungan Amerika yang senang sehabis “pembersihan” orang-orang “komunis” di Indonesia, Soeharto berhasil naik ke puncak kekuasaan. Para perwira yang turut andil dalam operasi penumpasan PKI beserta segenap unsur-unsurnya tanpa pengadilan, hingga mencapai ekses yang massif, dianggap berjasa oleh Soeharto dan diganjar dengan jabatan serta beragam fasilitas sehingga hidup nyaman sampai tua dan sebagian besar kini sudah meninggal dengan nama yang dimuliakan dan jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, dan keturunan mereka hingga kini menikmati keberlimpahan harta dari berbagai perusahaan dan lain-lain fasilitas finansial yang terjamin.

Buku-buku sejarah yang dijadikan bacaan wajib di sekolah dasar dan menengah mencatat nama-nama mereka sebagai pahlawan, pembela Pancasila, tokoh pembangunan, dan beragam julukan atau gelar yang harum dan heroik. Hingga kini upaya evaluasi tragedi pemusnahan massif selama paruh kedua 1965 hingga tahun berikutnya tidak pernah direspons hingga tuntas oleh pemerintah Indonesia. Sejarah tetap dibiarkan gelap entah sampai kapan.

Seiring dengan berjalannya waktu, sejarah terus ditulis dan ditulis ulang. Bukti-bukti baru bermunculan dari sana-sini, lambat laun kabut tersingkir. Generasi masa kini dan masa depan akan terperangah mendapati sebagian sosok “pahlawan bangsa” ternyata tidak lebih daripada hanya “orang-orang” Soeharto yang tidak segan-segan melakukan “pembersihan” dengan cara sistematis dan terencana di luar perikemanusiaan terhadap lawan-lawan politik, termasuk massa rakyat yang tidak berdosa, atau menjual sumber daya alam dengan sangat murah kepada konsorsium Amerika, Eropa, dan perkongsian Yahudi.

Soeharto memulai kekuasaannya dengan banjir darah dan menutup ordenya dengan banjir darah pula pada bulan Mei 1998. Selama itu Amerika Serikat dan para sekutunya, khususnya kalangan penguasa kapital Yahudi, menikmati sumber daya alam Indonesia yang luar biasa berlimpah tanpa pernah dibendung.

Kini di era Susilo Bambang Yudhoyono Amerika meneruskan pesta-pora yang cerdik dan menguntungkan di atas kekayaan bumi Nusantara. Rakyat masih belum menemukan orang lain selain Yudhoyono, meski daya tariknya telah susut drastis seiring dengan banyaknya kekecewaan atas kinerja maupun karakter pemerintahannya yang cenderung tidak tegas, sebab yang mengintai kursi kepresidenan dewasa ini adalah orang-orang yang dicurigai tangannya terciprat darah rakyat yang dibantai pada bulan Mei 1998. Praktis sejak Soekarno digulingkan negeri ini diperintah oleh tangan-tangan gelap Amerika Serikat dan sebagian pahlawan yang namanya memenuhi buku-buku sejarah untuk sekolah dasar dan menengah notabene bekerja, secara langsung maupun tidak langsung, demi kepuasan Paman Sam. Jadi, pahlawan siapakah mereka sebenarnya?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.